27 February 2008

Antara Simbol dan Perilaku


Oleh: Budi H. Wibowo

Dari zaman ke zaman, simbol acapkali digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Simbol atau tanda, dikenal oleh banyak orang sebagai suatu hal yang mengandung banyak makna lebih dari sekadar benda, huruf, dan arti harfiahnya. Dengan simbol kita mendapat nilai tambah yang tidak bisa begitu saja dikonversi dengan nilai uang, karena simbol memungkinkan yang tidak tersentuh menjadi tersentuh; sesuatu yang tidak tampak menjadi tampak kembali, dan sebagainya.

Kita mengetahui dari sejarah yang ada bahwa setiap bangsa di dunia atau setiap kebudayaan yang ada, pastilah memiliki simbol-simbol dengan arti yang penting bagi setiap orang yang ada dalam komunitasnya. Misalkan motif hias pada menhir merupakan perlambangan tentang filosofi hidup masyarakat yang sekaligus merupakan ungkapan rupa motif hias dengan perilaku kehidupan dalam struktur masyrakat Minang.2 Contoh lainnya yang juga dapat kita jumpai dan temui dalam keseharian adalah simbol-simbol yang ada dalam setiap agama. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain masing-masing memiliki simbol yang sarat dengan makna.

Menurut Nurcholis Madjid, penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif, yang justru mempunyai nilai intrinsik. Dan hal ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi, namun simbol tanpa makna adalah absurd, muspra dan malah berbahaya. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia, sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita, dalam makna takbir (ucapan “Allah-u Akbar”) pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan, “assalamu'alaikum...”) pada penutupannya.3

Pemakaian simbol telah lama ada dan terus berlangsung hingga saat ini. Dalam buku yang diterjemakan oleh A. Widyamartaya, F.W. Dillistone The Power of Symbols (Kanisius, 2002) menggarisbawahi konsep simbol dengan terminologi “pola hubungan rangkap tiga”, yakni adanya suatu entitas kecil, adanya suatu keterwakilan, dan adanya suatu entitas besar. Entitas kecil itu dapat berupa kata, ucapan, benda, peristiwa, pola, drama, atau pribadi. Sementara itu, entitas besar dapat berupa makna, realitas, cita-cita, nilai-nilai, keadaan, lembaga, atau konsep. Adapun keterwakilan dapat berupa represenasi, ilustrasi, isyarat, ingatan, rujukan, acuan, atau corak (yang bersifat arbitrer).4

Dalam tataran konseptual, Dillistone mengkomparasikan telaahnya dengan mendiskusikan konsep-konsep simbol dari beberapa pakar, baik antropolog sosial, teolog, maupun filsuf. Mereka adalah Raymond Firth, Mary Douglas, Victor Turner, Clifford Geertz, Ernst Cassirer, Paul Tillich, Paul Ricoueur, Karl Rahner, Bernard Lonergan, Austin Farrer, Mircea Eliade, dan Ernst Gombrich. Clifford Geertz, misalnya, sebagaimana diulas Dillistone, memahami simbol dalam konteks kebudayaan, terutama menyangkut dimensi religi. Bagi Geertz, menafsirkan suatu kebudayaan adalah menafsirkan sistem bentuk simbolnya sehingga membuahkan makna yang otentik.5

Komersialisasi Simbol
Seiring dengan perkembangan masyarakat dan zaman, simbol turut pula hadir hampir dalam setiap bidang kehidupan. Kecenderungan penggunaan simbol untuk kepentingan-kepentingan kelompok, perusahaan, pemerintah, organisasi, dan lain-lain dapat kita jumpai di setiap levelnya masing-masing. Guru besar komunikasi Universitas Padjajaran, Deddy Mulyana berpendapat bahwa hubungan antara simbol, termasuk nama atau merek, dengan rujukannya memang rumit, antara lain karena makna simbol terikat oleh budaya. Tanpa pemahaman ini, nama bisa menjadi bumerang. Misalnya, meski nama Nova indah dan enak didengar, Chevrolet gagal total ketika memasarkan model Nova di Amerika Latin. Penjualan mobil itu menyedihkan karena Chevrolet tidak menyadari bahwa Nova (no va) berarti ”tidak jalan” dalam bahasa Spanyol.6

Deddy juga menyebutkan bahwa ahli-ahli komunikasi pemasaran dan periklanan paham bahwa nama atau merek yang sudah melekat di hati masyarakat, apalagi jika menguntungkan, tak perlu diutak-atik lagi. Sulit membayangkan Mercedes, Levi’s atau Coca Cola diganti dengan nama-nama lain, meski kualitas produknya tetap sama atau bahkan lebih baik lagi. Deddy mencontohkan dalam semiotika ala Roland Barthes, makna suatu simbol memang liar. Makna apa pun yang dilekatkan oleh sumbernya terhadap simbol tidak lagi mengikat pihak mana pun di luar si sumber. Ibaratnya si pengarang telah mati, artinya tidak lagi mampu mengontrol makna yang ia maksudkan semula.

Di Indonesia, komersialiasi terhadap simbol-simbol telah lama terjadi terutama di wilayah yang menjadi pusat urban (misalnya Jakarta). Ronny Agustinus7 menyebutkan produk cetak urban lebih kepada pendekatan komersialisasi simbol-simbol yang pernah ada pada masyarakat kota. Sering juga merupakan plesetan, sindiran, desakralisasi nilai kepada sebuah simbol-simbol besar di masyarakat Indonesia, seperti presiden, idola, penyanyi, simbol-simbol magis dalam keagamaan.

Akibat komersialiasi simbol ini tak jarang, banyak orang atau kelompok tertentu menjadi tersinggung terhadap penggunaan simbol-simbol, terutama simbol-simbol yang berasal dari agama. Walhasil, simbol yang dipakai demi keuntungan komersil dengan alasan tutuntan zaman menjadi perdebatan tersendiri baik di kalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat awam. Jika kita coba mengamati perdebatan bahkan perbedaan yang substantif tentang suatu simbol, dapat kita jumpai dalam ruang obrolan —serius atau sekadar gosip— di pasar, warung atau kios, terminal, stasiun, pangkalan ojek, meski apa yang diobrolkan masih "kira-kira" (makna sesungguhnya dari simbol yang diobrolkan bisa jadi benar ataupun salah sama sekali).

Oleh karena itu, pemakaian simbol bagi kepentingan komersial sudah seharusnya tetap mengedepankan dan mempertimbangkan faktor penerimaan simbol yang dikomersialkan tersebut oleh masyarakat, sekalipun komersilasasi simbol diperuntukkan atas dasar alasan strategis, ekonomis, politis, ataupun yang lain.

Bersimbol Secara Arif
Pilihan untuk menggunakan simbol tentunya tidak tanpa dasar. Simbol merupakan media yang sangat efektif untuk mempengaruhi secara masif. Mengingat akibat atau efek samping —positif maupun negatif— dari sebuah simbol maka penggunaannya perlu didasarkan dengan kearifan, kecerdasan sekaligus ketepatan dari penggunanya.

Menurut Mohamad Surya adanya simbol-simbol keagresifan tertentu, seperti pakaian, kendaraan, tanda-tanda (misalnya tato, logo, dan sebagainya) dan senjata yang dimiliki atau dibawa, secara tidak langsung dapat mempengaruhi timbulnya perilaku agresif baik bagi yang membawanya atau bagi orang lain yang mengetahuinya.8

Terkait dengan itu, Sumadi Dilla mencontohkan perilaku para elite di hampir setiap pelaksanaan momen politik (pemilu dan pilkada), penuh aroma perang wacana, simbol, warna dan citra secara berlebihan. Sebuah fenomena yang selalu menjadi bumbu ajaib. Perilaku yang demikian, menjadi bahasa politik dan pola komunikasi politik yang dianggap mujarap dilakukan. Tak terkecuali para aktor politik (elit) baik itu birokrat, politisi, dan para aktivis sibuk dengan propaganda dan kampanye politik yang dilakukan.9 Dalam konteks hubungan simbol dan perilaku ini sudah selayaknya pengguna/pemakai simbol —biasanya dimanfaatkan terutama oleh pemimpin dalam sebuah komunitas, kelompok, organisasi, dan lain-lain— dengan tujuan memotivasi secara positif yang dipimpinnya.

Bass dan Avolio (1994) menemukan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat komponen perilaku, yaitu: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration. Inspirational Motivation, adalah upaya pemimpin transformasional dalam memberikan inspirasi para pengikutnya agar mencapai kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbayangkan. Biasanya pemimpin ini menggunakan simbol-simbol dan metafora untuk memotivasi karyawannya. Diajaknya para karyawan menemukan makna mendalam dalam bekerja. Agar karyawan mau mengikutinya secara suka rela, ia menempatkan dirinya sebagai tauladan bagi para pengikutnya tersebut.10

Penutup
Sampai kapanpun, simbol pastilah masih selalu digunakan oleh siapapun juga apalagi dalam masyarakat yang tingkat peradabannya seperti sekarang ini. Tuntutan zaman mau tidak mau menjadikan simbol sebagai salah satu media efektif dalam komunikasi, interaksi, sosialisasi, bahkan bisa jadi akibat penggunaan simbol menimbulkan sebuah peradaban baru dan perilaku baru yang lahir atas kombinasi dari simbol-simbol yang pernah ada.

Simbol, yang tentunya mengandung makna dan memang digunakan bagi kepentingan strategis, ekonomis, politis atau apapun juga perlu mempertimbangkan kearifan, kecerdasan, dan ketepatan dari pengguna/pemakainya agar tidak timbul ketersinggungan yang tak diinginkan.

Daftar Bacaan
Dwi Suryanto, "Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional", http://www.pemimpin-unggul.com/buku/ komponen.html
Heru S.P. Saputra, “Simbol, Analogi, dan Alegori”, Humaniora, Volume XV, No. 1/2003.
Sumadi Dilla, "Menyingkap Perilaku Elite dan Kenaifan Kedua dalam Pilkada", http://kendariekspres.com/news.php?newsid=3647
“Antara Simbol dan Harapan”, Pikiran Rakyat, 20 Maret 2006.
"Kekerasan di IPDN", Pikiran Rakyat, 11 April 2007.
http://belanak.wordpress.com/2007/03/21/ekspedisi-megalitikum-dan-sebingkai-film/
http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/SimbolismeN2.html
http://www.karbonjournal.org/content/?p=140&language=en

Endnote:
1 Pemerhati masalah sosial tinggal di Jakarta.
2 Penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Universitas Negeri Padang yang terdiri dari Drs. Syafwandi, M.Sn, Drs. Zubaidah, M.Sn dan Drs. Ariusmedi, M.Sn. Tim ini mencoba menelusuri kembali sejarah masyarakat Minangkabau yang berangkat dari peninggalan benda-benda terutama pengkajian bahasa rupa atau simbol. Lihat, http://belanak.wordpress.com/2007/03/21/ekspedisi-megalitikum-dan-sebingkai-film/. Penelitian tersebut bertujuan untuk menyibak makna simbol yang terdapat pada batu tagak (menhir) serta hubungannya dengan kebudayaan dan perilaku sosial masyarakat Minangkabau.
3 http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/SimbolismeN2.html
4 Heru S.P. Saputra, “Simbol, Analogi, dan Alegori”, Humaniora, Volume XV, No. 1/2003, hlm. 115.
5 Ibid., hlm. 116.
6 Lihat, “Antara Simbol dan Harapan”, Pikiran Rakyat, 20 Maret 2006.
7 http://www.karbonjournal.org/content/?p=140&language=en
8 "Kekerasan di IPDN", Pikiran Rakyat, 11 April 2007.
9 Sumadi Dilla, "Menyingkap Perilaku Elite dan Kenaifan Kedua dalam Pilkada", http://kendariekspres.com/news.php?newsid=3647
10 Dr. Dwi Suryanto, Ph.D., "Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional", http://www.pemimpin-unggul.com/buku/komponen.html

Sumber: Jurnal Keluarga, Vol. 3 Nomor 3 Tahun 2008.

MERETAS PEMIKIRAN © 2008 Template by:
SkinCorner modified by Teawell
Untuk mendapatkan tampilan terbaik situs ini
gunakan resolusi 1024x768 dan browser IE atau Firefox